Empat Dimensi Menuju Ma’rifat

Mencapai ma’rifat bisa melalui empat dimensi. Dimensi pertama memiliki dasar iman yang kuat. Dimensi kedua adalah menjalankan hukum syariat. Dimensi ketiga ditempuh dengan ajaran tarekat. Dimensi keempat mampu menggali hakikat. Keempatnya berjalan seiring bersama-sama, berjalan serempak, saling mendukung, membantu dan bekerja sama. Menuju puncaknya ma’rifatullah. Maka bangunan ma’rifat diibaratkan bangunan piramid.

Iman tergelar sebagai dasar (pondasi) piramida. Sebagai fundamen ma’rifatullah, tanpa iman tak akan mungkin mengenal Tuhan.
Syariat pilar pelaksana hukum agama. Hukum syariat merupakan tiang agama, jalankan perintah dan jauhi laranganNYA.
Thariqat pilar pencari jalan yang bersih. Sebagai upaya pembersih kalbu dari kotoran hawa nafsu.
Dimensi hakikat penggali inti ajaran yang jernih. Membahas tuntas inti masalah yang mendasari semua ajaran ma’rifatullah.
Masing-masing dimensi tidak berdiri sendiri-sendiri, keempatnya erat berkait, dan dilakukan bersama-sama. Persis seperti sedang menata batubata untuk membangun bangunan piramida. Sehingga tidak ada ajaran bila seorang kyai sudah ma’rifatullah kemudian boleh meninggalkan syariat. Sungguh itu jauh dari kebenaran jalan ma’rifatullah.

Pada hakekatnya tiada yang mengenal Allah kecuali hanya Allah sendiri. Pengenalan kepada Allah merupakan rahmat yang dilimpahkan kepada seluruh umat.

Wala hualam bissawab

Inilah Inti Ajaran Makrifat

Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang diajarkan adalah wejangan yang berasal dari delapan wali dari tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Isinya bersumber dari intisari firman Allah SWT yang dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.
Dzat dan Rumah Tuhan
Ajaran pertama tentang Dzat dan singgasana Tuhan. Ajaran tersebut terbagi menjadi delapan bagian, yaitu sebagai berikut :

1. Adanya Dzat
Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena pada waktu masih keadaan kosong, belum ada sesuatupun. Yang ada hanyalah Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat Dzat yang Maha Suci, yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku, dan yang menandai perbuatan-perbuatan-Ku.

2. Kejadian Dzat
Sesungguhnya, Aku adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu. Terjadi dalam seketika, sempurna dari Kodrat-Ku. Pertama kali yang Aku ciptakan adalah sebuah pohon bernama Sajaratul Yakin (pohon kehidupan). Pohon itu tumbuh dialam Adam Makdum (kosong hampa) yang azali dan abadi. Setelah itu Aku ciptakan Cahaya Bernama Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), kemudian cermin bernama Mir’atul Haya’i (kaca wira’i), nyawa yang disebut Roh Idhafi (nyawa yang jernih), pelita yang bernama Kandil (lampu tanpa api), pemata yang bernama Dzarrah (permata), dan Jalal (keperkasaan) yang disebut Hijab (dinding jalal atau penutup), yang menjadi sekat bagi penampakan-Ku.

3. Uraian Tentang Dzat
Sebenarnya manusia itu adalah Rahasia-Ku dan Aku ini adalah rahasia manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat unsur yaitu : tanah, air, api, dan udara. Keempat unsur itu adalah perwujudan dan Sifat-Ku. Kemudian Aku masukkan kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu : nur, rasa, ruh, nafsu, dan budi yang merupakan dinding yang menghalangi Wajah-Ku yang Maha Suci.

4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Makmur, yaitu rumah tempat kesukaan-Ku. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala itu ada otak, dalam otak itu ada manik, dalam manik ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahasia, dalam rahasia ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang melipti semua keadaan.

5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana berada dalam Baitul Muharram, yaitu rumah tempat pengingat-Ku. Tempat itu ada di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati itu ada jantung, di dalam jantung itu ada budi, di dalam budi itu ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana di dalam Baitul Muqaddas. Itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan. Berada dalam kemaluannya adam, dalam kemaluan itu ada prinsilan (buah pelir), di antara prinsilan itu ada nathfah yaitu mani, dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahasia, dalam rahasia ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat gaib, turun menjadi Jauhar Awal. Disitulah alam Ahadiyat berada (alam Wahdat dan alam Wahidiyat), alam Arwah, alam Misal, alam Ajsam, dan alam Insan Kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifat-Ku yang sejati.

7. Peneguh Iman
Yaitu yang menjadi kekuatan iman:
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku.

8. Kesaksian
Aku bersaksi dalam Diri-Ku sendiri bahwa tidak ada Tuhan selain Diri-Ku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku. Bahwa sesungguhnya yang dinamakan Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku, Muhammad itu adalah Cahaya-Ku. Akulah yang selalu ingat dan tidak pernah lupa, Akulah yang kekal tidak bisa diubah oleh keadaan. Akulah yang selalu tahu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Ku. Akulah yang menguasai segalanya, yang Maha Kuasa dan Bijaksana, tidak memiliki kekurangan dalam pengetahuan. Biar Sempurna, terang-benderang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Diri-Ku yang meliputi semua alam dengan Kodrat-Ku.

Wallahu `alam bissawab

MENYELAMI SIFAT 20

SIFAT-SIFAT KETUHANAN 

 

 

 

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

 

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

 

Dibagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

 

 

 

BAGIAN I: Sifat Nafsiyah: 

 

Wujud, artinya ada,

yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.

Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:

Allahu kholiqu kullu syai’in

artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.

Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna

Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.

Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.

 

Adapun Wujud itu tiga bagi:

1. Wujud Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya

2. Wujud Mujazi, yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala

3. Wujud ‘Ardy, yaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain

 

Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bagian

1. Mawujud dalam ‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain

2. Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.

 

Adapun segala yang Mawujud itu lima bagian :

1. Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal

2. Mawujud pada Kharij yaitu ada kenyataan bekas

3. Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi

4. Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api

5. Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala

 

Membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil:

1. Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan

2. Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan

3. Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan

4. Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan

5. Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan

 

 

 

BAGIAN  II: Sifat Salbiyah 

 

Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat:

 

1. QIDAM, artinya Sedia

2. BAQA’ artinya Kekal,

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.

5. WAHDANIAH, artinya Esa

 

1. QIDAM, artinya Sedia

Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan, lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal awwalu, artinya Ia juga yang awal.

 

Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara:

a. Qadim Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala

b. Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala

c. Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak

d. Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun

 

2. BAQA’ artinya Kekal

Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

 

Adapun yang Kekal itu dua bahagi:

a. Kekal Haqiqi, yaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala

b. Kekal Ardy, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.

 

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu

Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu, karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits,

 

adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:

laisa kamislihi syaiin wa huwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.

Adapun bersalahan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.

Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan‘Aum takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang mawujud.

 

Adapun sifat yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.

 

Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.

Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.

 

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya

Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat ‘berdiri’ dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.

 

Mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya, karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.

 

Dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Ia karena Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.

 

Maka sekarang menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.

 

Adapun segala yang Mawujud  menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia itu empat bagian:

 

a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala

b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat Allah Ta’ala

c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu

d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh yang baharu

 

5. WAHDANIAH, artinya Esa

Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.

Lawannya An-yakunu wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, karena jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini karena banyak yang memberi bekas.

 

Seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, karena tiga yang memberi bekas. Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan, karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar.

Maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai.

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.

 

Adapun Wahdaniah pada zat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

 

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.

 

Adapun Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.

 

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.

 

Adapun Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.

 

 

BAGIAN  III: Sifat Ma’ani 

 

Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu Ma’nawiyah)

 

Sifat Ma’ani ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:

 

1. QUDRAT artinya Kuasa, Takluk pada segala mumkinun (Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya )

2. IRADAT artinya Menentukan, takluk pada segala mumkinun

3. ILMU artinya Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz (harus) bagi aqal.

4. HAYAT artinya Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat yang lain.

5. SAMA’ artinya Mendengar, takluk pada segala yang maujud.

6. BASYAR artinya Melihat, takluk pada segala yang maujud.

7. KALAM artinya Berkata-kata

 

 

1. QUDRAT artinya Kuasa

 

Adapun hakikat Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya

 

Adapun mumkin itu empat bagian :

a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.

b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.

c. Mumkin sayuzad, yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.

d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.

 

Lawannya ‘Ujdzun artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, karena jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada alam ini karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujdzun.

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

* Qudrat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

 

2. IRODAT artinya Menentukan

 

Adapun hakikat Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat dengan Ilmu-Nya.

 

Adapun Iradat Allah Ta’ala menentukan enam perkara:

a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya

b. Menentukan Tempat mumkin itu

c. Menentukan Jihat mumkin itu

d. Menentukan Sifat mumkin itu

e. Menentukan Qadar mumkin itu

f. Menentukan Masa mumkin itu

 

Lawannya Karahat artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah) alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.

 

  • Adapun Iradat dengan amar dan nahi itu tiada berlazim karena:
  • Ada kalanya disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya.
  • Ada kalanya disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.
  • Ada kalanya tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.
  • Adakalanya tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti Nabi Adam as dan Hawa.

Tetaplah dalam Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Iradat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat ( tidak menentukan atau tidak berkehendak).
  • * Iradat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.
  • * Iradat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
  • * Iradat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
  • * Iradat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

3. ILMU artinya Mengetahui

 

Adapun hakikat Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus.

Adapun yang wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.

Adapun yang mustahil itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya.

 

Adapun yang harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim

Lawannya Jahil, artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahuluuntuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Ilmu Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.
  • * Ilmu Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.
  • * Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
  • * Ilmu Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
  • * Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

4. HAYAT artinya Hidup

 

Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.

Lawannya maut artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang Hidup yang tiada mati.

Tetaplah dalam Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahuluuntuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Hayat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.
  • * Hayat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.
  • * Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
  • * Hayat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
  • * Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)

5. SAMI’ artinya Mendengar

 

Adapun hakikat Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau Muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.

Lawannya Sumum, artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.

 

Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .

Tetaplah dalam Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Sami’ Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.
  • * Sami’ Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.
  • * Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
  • * Sami’ Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
  • * Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

6. BASHIR  artinya Melihat

 

Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.

Adapun mawujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan.

Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.

Lawannya ‘Umyun, artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta

 

Adapun dalilnya firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.

Tetaplah dalam Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahuluuntuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Bashir Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.
  • * Bashir Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.
  • * Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
  • * Bashir Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
  • * Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

 

7. KALAM artinya Berkata-kata

 

Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.

Lawannya Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu.

Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.

Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.

 

Tetaplah dalam Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahuluuntuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

 

  • * Kalam Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.
  • * Kalam Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.
  • * Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.
  • * Kalam Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
  • * Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

 

 

BAGIAN  IV: Sifat Ma’nawiyah 

 

Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:

 

1. QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat

2. MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat

3. ‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat

4. HAYYUN, artinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat

5. SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat

6. BASIRUN, artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat

7. MUTTAKALLIMUN, artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat

 

 

BAGIAN  V: Sifat  ISTIGHNA

 

Artinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.

Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.

 

Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:

 

  1. Wujud,
  2. Qidam,
  3. Baqa’,
  4. Mukhalafatuhu lil khawaditsi,
  5. Kiyamuhubinafsihi,
  6. Sami’,
  7. Basir,
  8. Kalam,
  9. Sami’un,
  10. Basirun dan
  11. Muttakalimun.

 

Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3)  sifat lagi  yang termasuk pada sifat Istighna yaitu:

 

 

1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya,

lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya.

 

2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya   * Tambahan oleh penyalin  : {{ harus Ia menjadikan alam ini}}

 

3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya {erti: MakhlukNya} dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh

 

 

BAGIAN   VI: Sifat  IFTHIKHOR

 

Artinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.

Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,

Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:

 

1. Qudrat

2. Iradat

3. Ilmu

4. Hayat

5. Qodirun

6. Muridun

7. ‘Alimun

8. Hayyun

9. Wahdaniah 

 

Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang  termasuk pada sifat Ifthikhor:

 

 

1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya

 

2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainatnya {makhlukNya} dengan tobi’at atau dzatnya.

Lawannya memberi bekas; yaitu mustahil: tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya sesuatu daripadaNya.

 

Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah,

 

maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.

 

 

 

Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):

 

1. Wajibal wujud, yaitu yang wajib adanya.

2. Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah

3. Kholikul ‘alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam

4. Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.

 

Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:

 

Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

 

Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat:

 

Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang laindengan mengatakan: laa ilaha

dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah

Laa = nafi, Ilaha = menafi,

ila = isbat, Allah = meng-isbat

 

Yang kedua kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir.

Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.

KESIMPULAN *****   Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor  itu berdiri pada YANG LAIN (selain Allah) dengan mengatakan: laa ilaha

dan diisbatkan (disabitkan) sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah

 

SHOLAWAT ALAFA / Sholawat Moyang ENERGI NUR SEMULA JADI

                                              ENERGI ILAHIYAH NUR SEMULA JADI

Salam sejahtera selalu… semoga Allah merahmati kita semua, aamiin…

Sebuah kasih sayang yang pertama kali tercipta di alam raya adalah kasih sayang antara Allah dan mahluk yang paling pertama tercipta yaitu nur Muhammad, walau banyak pihak yang tak percaya bahwa mahluk pertama kali adalah nur muhammad tapi yang banyak dipegang oleh kaum makrifat adalah sebuah hadist yang beredar luas dikitab kitab hadist yang menyatakan bahwa nabi muhammad bersabda ” makhluk yang pertama kali tercipta adalah nur nabimu ini ” hadistnya pun hadist shahih yang bisa anda lihat dikitab shahih bukhari, sebuah kitab hadist dari muhaddisun kenamaan yang kredibilitasnya 1000% murni

Dari terciptanya makhluk yang pertama kali ini ( yaitu nur Muhammad ) maka tercipta pula rasa kasih sayang antara keduanya yaitu antara Allah dan nur Muhammad, begitu besar kasih sayangnya allah tuhan semesta alam kepada mahluk yang pertama kali ia ciptakan dari belahan nur-NYA itu maka Allah memberi seluruh kemulyaan kepada nur Muhammad ini, Allah menciptakan alam raya ini dari nuktah nur Muhammad dan setelah terjadi alam raya yang utuh maka allah berfirman ” LAULAKA LAULAKA LAMA KHOLAQTUL AFLAKA “ dari kalimat ini muncul apa yang disebut kalimat makrifat nur Muhammad dengan energi nur Muhammad yang hebat, arti dari firman LAULAKA LAULAKA LAMA KHOLAQTUL AFLAKA adalah ” bila bukan karena engkau maka tidak ku ciptakan alam raya”

Alam raya diciptakan khusus diperuntukkan untuk nur Muhammad, makhluk pertama kali tercipta dan pertama kali disayangi dan dikasihi Allah, kasih sayang yang teramat besar antara Allah dan nur semula jadi alam raya ini tertuang dalam SHOLAWAT NUR ALAFA, di awal awal terciptanya alam raya ini sebagai tanda syukur maka nur Muhammad mengucapkan kalimat syahadat yang disebut syahadat nur Muhammad untuk memberi pernyataan siapa tuhan siapa hamba, ketika nur Muhammad berkata HU DZATULLAH maka itulah pengakuan nur muhammad bahwa DIA (Allah) adalah yang tuhan, ketika nur Muhammad berkata asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah maka itulah pengakuan nur muhammad bahwa dia (Allah) adalah tuhan satu satunya dan dirinya adalah rasulnya, mungkin anda bertanya “apakah waktu itu nur Muhammad sudah menjadi rasul?” tentu iya, ketika itu nur Muhammad sudah menjadi rasul dan Allah yang mengesahkannya sebagai rasul, setelah nur Muhammad mengucapkan syahadatnya maka nur Muhammad mengucapkan kalimat tauhid yang menguatkan pernyataan sebelumnya,

Setelah nur Muhammad mengucapkan kalimat tauhid maka nur Muhammad mengucapkan “KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD “ inilah dekrit pertama kerasulan nur Muhammad, nur Muhammad mengucapkan KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD kepada setiap ciptaan Allah dialam raya, nur Muhammad mengucapkannya satu per satu kepada tiap tiap mahluk ketika itu, apa arti KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD….? atinya adalah ” menjadilah engkau wahai (….) bersolawatlah engkau kepada muhammad” .

Semua mahluk mulai pohon, hewan, planet, bintang, air, dll disabda dengan kalimat kun sholli ala muhammad, dan para mahluk menuruti perintah nur muhammad dengan sholawat juga, maka dari itu kalau ada nama nabi Muhammad anda wajib bersholawat

Siapakah yang di maksud muhammad dalam kalimat KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD…? Muhammad disitu adalah nur tersebut, ketika syahadat nur Muhammad tercucap saat itulah nur semula jadi alam raya tersebut bernama nur Muhammad maka syahadatnya disebut syahadat nur yang bernama Muhammad, dari sini pun kita tau mahluk yang pertama kali berkata kata adalah nur yang bernama Muhammad, dan kalimat yang pertama kali diucapkan para mahluk ketika itu adalah jawaban dari KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD yaitu ucapan sholawat ” SHOLLALLAHU ALA MUHAMMAD “ oleh karena itu kalimat shollallahu ala Muhammad disebut sholawat pembuka pintu rahmat karena sebab kalimat tersebut maka para mahluk yang mengucapkannya bisa mendapat rahmat dari allah, dan kalimat KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD itulah sholawat yang pertama kali berkumandang di-alam raya ini, allah memberi kuasa kepada tiap tiap mahluk dialam raya ketika itu untuk mengucapkan kalimat mulia “KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD” . itulah yang disebut sholawat semula jadi atau sholawat alafa

Setelah anda tahu apa arti dari kun sholli ala Muhammad, maka pasti anda ingin tau juga energi apa yang ada didalamnya dan bagaimana cara meng-akses energi tersebut, sholawat alafa itu sebutannya, alafa mempunyai arti ” yang pertama ” karena nur Muhammad adalah mahluk yang pertama di-alam raya, alafa juga ber-arti ” kasih sayang ” karena nur Muhammad adalah kasih sayang Allah yang pertama dan karenanya seorang hamba mendapatkan kasihnya

Sholawat alafa ini energi ilahiyahnya sangat besar untuk kehidupan anda, untuk membuka jalan kesuksesan anda, mengubah jalan hidup yang suram menjadi cerah ber-energi ilahiyah, membuang sengkala hidup, membuka aura tubuh anda secara penuh dan permanen, dengan menyuplai energi ilahiyah yang terdapat pada sholawat alafa  ini maka aura kerezekian ditubuh anda bisa terbuka dan rezeki juga kekayaan mudah menghampiri, juga untuk membuka aura kasih sayang pada tubuh anda agar anda disayangi semua mahluk, tidak terbatas pada itu, anda bisa memfungsikan energi nur semula jadi ini untuk tujuan hidup anda agar lebih baik dan lebih cerah. hidup anda suram? kurang semangat? selalu sial dan merasa kehidupan tak pernah berpihak? susah jodoh? susah rezeki? karir meredup? dan persoalan persolan lain dimuka bumi ini bisa di-atasi dengan energi nur semula jadi yang bersarang didalam kalimat sholawat alafa

♥♪♫♥♪♫♥♪♫

SHOLAWAT KUN FAYAKUN

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَعَ السُّلُطَةِ عُقَدُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ أَدْعُو اللّٰهَ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَ بَارِكْ صَلَاتِيْ مَعَ قُوَّةِ وَ إِرَادَةِ اللّٰهِ كُنْ فَيَكُوْنُ…….

ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN MA’AS SULUTHOTI ‘UQODU MIN ALFI SHOLAATIN AD’UL-LOOHA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMADIN WA BAARIK SHOLAATII MA’A QUWWATI WA IROODATIL-LAAHI KUN FAYAKUN……

Artinya:
“Ya Allah, berkatilah Nabi Muhammad, dengan kekuatan seribu do’a, saya berdo’a kepada Allah, Berkatilah Nabi Muhammad dan berkatilah do’a saya, Dengan kekuatan dan kehendak Allah, Jadi, maka jadilah…..”

Sholawat Kun Fayakun merupakan inti kharomah tingkat tinggi. Sholawat ini ibarat suatu induk do’a untuk mewujudkan apapun permintaan atau permohonan do’a kita, dalam suatu keilmuan disebut puncak ilmu cipta atau daya Ladunni.

Sholawat kun fayakun adalah kunci do’a yang hanya bersandar memohon pada Allah dengan menjunjung tinggi nabiyullah Muhammad. Sholawat kun fayakun dalam ilmu hikmah banyak diburu karena beranggapan ini adalah puncak kekuatan do’a sholawat yang merupakan induk energi ilmu Ladunni. Namun apapun do’a hanya atas kehendak Allah-lah akan memiliki suatu khasiat yang luar biasa.

Sholawat kun fayakun akhirnya kami tampilkan disini, semoga ini menjadi wawasan dan keilmuan yang bermanfa’at bagi kita semua dalam menambah khasanah ilmu ghaib. Sholawat kun fayakun akan sangat bermanfa’at buat anda yang sudah memiliki kemampuan ilmu ghaib dan dianjurkan bukan untuk para pemula, karena pengamal haruslah punya dasar (pondasi keilmuan ghaib) yang kuat dalam menguasainya. Sholawat kun fayakun dikenal sholawat dari nabi KHIDLIR atau sholawat ma’rifat, bahkan dikalangan ahli ilmu hikmah ada yang menyebutnya kunci pamungkas ilmu raja diraja, bahkan ada yang menyebutnya puncak ilmu daya Ladunni, ada yang menyebutnya aji sekti poro wali (istilah jawa: sekti tanpo aji, kuwoso tanpo topo, sugih tanpo bondho, ngluruk tanpa bolo, menang tanpo ngasorake).

Jika membahas khasiat dan kharomahnya tidak ada habisnya, seribu satu khasiat untuk segala keperluan tentunya. Banyak orang yang memburu dibelain belajar kesana kemari, bahkan bergabung disuatu komunitas paranormal atau perguruan yang mengajarkan ilmu hikmah dsb untuk memburu sholawat kun fayakun ini. Bahkan ada yang rela merogoh gojek dengan mahar yang fantatis untuk keilmuan tingkat tinggi. Di sini saya menguak dan mengijazahkan ilmu langka yang diburu oleh para ahli ilmu hikmah dan paranormal islami dan penggemar ilmu ghaib di seantreo nusantara yang ingin memiliki Sholawat Kun Fayakun ini. Saya yakin posting ini akan banyak di copas namun kami ikhlas, dengan catatan bukan untuk suatu hal yang komersial! Ingat keilmuan sejati hanya milik Allah yang punya kehendak dan mengabulkanNya. Tidak ada do’a ampuh, amalan ampuh apapun jika tanpa seijinNya, semua kita kembalikan pada keimanan kita pada Allah dan bermunajat hanya memohon padaNya. Sholawat Kun Fayakun ini kami ijazahkan buat anda sekalian, khusus anggota group KUMPULAN SHOLAWAT ini.

Sholawat kun fayakun bisa dipadukan dengan keilmuan apapun tentunya jenis ilmu hikmah, dan setelah mengucapkan kun fayakun maka dalam hati anda menyatukan cipta rasa anda untuk memohon pada Allah apa yang anda harapkan.

Catatan:
Titik-titik ………. diisi (permohonan/do’a/keinginan anda)
Permohonan bisa berupa keilmuan ghaib apapun, kebutuhan duniawi seperti cinta asmara, kerejekian, kelancaran usaha, dsb, seribu permohonan sesuai dengan kehendak bathin anda.

Dengan energi Sholawat kun fayakun mampu menghadirkan raja khodam dan memerintahkannya untuk suatu keperluan. Bahkan dengan kekuatan energinya sanggup menghadirkan khodam langka yang berwujud raksasa yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Hal ini perlu dengan suatu kebijaksanaan dalam menyingkapi suatu amalan keilmuan dan perlu adanya guru pembimbing yang sudah paripurna. Karena jika hal ini disalah gunakan maka akan berakibat fatal buat diri sendiri dan merugikan orang lain. Inti ilmu ghaib ada pada pengendalian, jika anda yang dikendalikan ini berarti anda tidak menguasai keilmuan namun anda yang dikuasai suatu unsur khodam keilmuan anda. Banyak orang yang tersesat karena tidak bisa menguasai keilmuan. Ilmu akan bermanfa’at jika anda bijak dalam mengamalkan dan mampu menguasainya secara baik dan benar dijalan Allah. Semoga bermanfa’at dunia akhirat, aamiin.